Mencapai Kebebasan Finansial

Hal yang lazim bahwa setiap manusia pasti membutuhkan uang untuk memenuhi segala kebutuhan dan keinginan dalam hidupnya. Tidak dapat dipungkiri, dalam benak setiap manusia pasti ada keinginan untuk menjadi kaya, memiliki rumah mewah, mobil mewah, berkeliling dunia, serta bisa membeli apa saja tanpa harus pusing-pusing mempertimbangkan harganya. Ya, secara manusiawi hal tersebut sangatlah lumrah. Termasuk saya pun juga menginginkannya. Tapi apakah semudah itu untuk mendapatkannya? Seperti halnya prinsip ekonomi yang menyatakan bahwa “kebutuhan manusia yang tak terbatas dibandingkan dengan sumber daya yang terbatas” menunjukkan bahwa manusia perlu usaha ekstra untuk mencukupi kebutuhan dan keinginan mereka, sebab sumber daya  yang berupa uang amat terbatas.

Hampir setiap orang tua berpesan kepada anak-anak mereka untuk belajar yang rajin selagi muda, agar menjadi anak yang pintar, bisa lulus dengan nilai terbaik, dan kelak bisa mendapat pekerjaan yang baik dan berpenghasilan tinggi. Bahkan kebanyakan orang tua juga berpesan kepada anak-anak mereka untuk bekerja keras dan menabung agar kelak menjadi orang yang kaya raya, berlimpah harta, dapat memiliki apa yang mereka inginkan. Hal tersebut memang benar, tidak ada yang salah. Karena setiap orang tua pasti memberikan nasihat yang terbaik untuk anak-anak mereka, berdasarkan dari pengalaman yang telah mereka alami, bahkan jauh sebelum kita lahir. Namun apakah hal yang sama akan berhasil dilakukan di tengah-tengah era globalisasi ini? Ditambah semakin banyaknya orang-orang muda yang memiliki gelar yang lebih tinggi dari S1. Bahkan tak jarang juga sarjana lulusan universitas internasional. Bukankah hal tersebut membuat persaingan semakin ketat? Lalu bagaimana kah kita bisa menjadi kaya hanya dengan bekerja keras, sementara kesempatan kerja yang makin menipis dibandingkan dengan pencari kerja yang semakin banyak?

Mungkin sering terlintas dipikiran kita untuk berbisnis. Namun sayangnya kita sendiri bahkan tidak tahu mau berbisnis di bidang apa, dari mana modalnya, bahkan kita tidak tahu mengapa kita mau berbisnis, lalu bagaimana bisa kita memulai bisnis tersebut. Alhasil tinggalah berbisnis hanya dalam angan-angan saja. Bila ditanya mengapa kita ingin berbisnis, singkatnya karena kita ingin kaya. Namun ukuran kekayaan itu relatif. Ada yang menyebut orang berpenghasilan 1 milyar sebulan adalah orang kaya. Ada juga yang mengatakan bahwa orang kaya itu adalah orang yang mempunyai rumah mewah, mobil mewah, dan lain sebagainya. Tapi bagi saya, orang berpenghasilan 1 milyar bukanlah orang kaya, bila dia memiliki pengeluaran sebesar 1,5 milyar sebulan. Lalu seperti apakah orang kaya sesungguhnya?

Robert T. Kiyosaki memiliki pendapat, bahwa orang kaya tidak diukur dari berapa besar active income. Seseorang bisa disebut kaya bila passive income-nya sudah lebih besar dari biaya hidup. Yang dimaksud passive income di sini adalah uang yang masuk dan menjadi hak milik kita dengan sendirinya tanpa harus bekerja. Tapi mengapa kita harus mempunyai passive income, jika active income saja sudah bisa membuat kita bisa memiliki apa yang kita inginkan? Sekarang saya kembalikan pertanyaannya. Apakah active income saja sudah menjamin kehidupan kita dan anak cucu kita seutuhnya? Bagaimana bila nanti kita dipecat dari pekerjaan atau pensiun. Tidak ada lagi active income yang kita peroleh. Artinya penghasilan kita berhenti sampai di situ saja.

Berbeda dengan Robert T. Kiyosaki, ada pendapat lain dari Anthony Robbins. Baginya ada enam tahap mengukur kekayaan seseorang. Yaitu:

1. Financial Protection adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mempunyai cukup uang untuk memenuhi pengeluaran minimum, untuk dua bulan tanpa harus bekerja sampai 4 bulan.

2. Financial Security adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya dapat mencukupi kebutuhan di bawah ini tanpa harus bekerja lagi, terkecuali bila kita memutuskan untuk bekerja. Kebutuhan tersebut adalah : angsuran rumah, biaya makan, transportasi, asuransi, listrik, gas, dan air, pajak.

3. Financial Vitality adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mempunyai investasi cukup banyak yang relatif  aman, dan hasilnya tidak hanya bisa mencukupi kebutuhan sampai tingkat financial security, melainkan juga kebutuhan di bawah ini tanpa harus bekerja, kecuali bila kita memilih untuk bekerja. Kebutuhan tersebut antara lain : pendidikan anak, biaya hiburan atau entertainment, membeli baju dan barang mewah yang masih masuk akal.

4. Financial Independence adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mencapai investasi cukup banyak yang relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita untuk hidup persis dengan gaya hidup kita sekarang, tanpa harus bekerja lagi seumur hidup kita. Dengan kata lain kita bebas tidak bekerja.

5. Financial Freedom adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mencapai investasi cukup banyak dan relatif aman, dan hasilnya mencukupi kebutuhan kita dengan gaya hidup yang kita inginkan.

6. Absolute Financial Freedom adalah suatu kondisi keuangan di mana kita mencapai investasi cukup banyak dan relatif aman, dan karena itu kita yakin bahwa kita bisa melakukan secara nyata apa pun yang kita inginkan, kapan pun kita inginkan, ke mana pun kita inginkan, dengan siapa pun kita inginkan, sebanyak dan selama apa yang kita inginkan, dalam cara yang membuat orang lain berdaya, selamanya.

Dalam bukunya Passion, Profit & Power, Marshall Silver mengatakan bahwa ternyata hanya 1% orang yang menguasai 50% uang yang beredar di dunia. Serta hanya 5% orang yang mengusai 90% uang yang beredar di dunia. Artinya hanya 10% uang yang beredar di dunia yang dikusai oleh 95% orang. Waaawh, kenyataan yang sungguh menyedihkan. Orang di dunia yang begitu banyaknya hanya menguasai uang yang begitu sedikit. Tidak hanya itu, uang 10% pun itu masih harus dibagi-bagi kepada 95% orang di dunia. Lalu berapa banyak uang yang bisa diperoleh setiap orang? Mengapa bisa terjadi demikian?

Menarik sekali bila orang-orang dari kedua golongan itu diberi pertanyaan yang sama, namun reaksi keduanya berbeda. Seperti ini contoh pertanyaannya, “Bila Anda mendapatkan uang 1 juta dollar, akan digunakan untuk apa uang tersebut?”. Tidak heran bila mendengar pertanyaan demikian kemudian di kepala rata-rata orang di dunia muncul jawaban seperti ini “Aku akan membeli rumah mewah, mobil BMW, Jaguar, keliling dunia, naik kapal pesiar, dan sebagainya.” Berbeda dengan orang kebanyakan, 1% orang di dunia menjawab demikian “Aku akan menggunakannya untuk membuat uangku bertambah banyak, atau bahkan berlipat ganda.” Nah, tidak mengherankan jika orang yang termasuk golongan ini akan menempatkan uang mereka di deposito, atau melakukan investasi dengan membeli rumah untuk disewakan, berinvestasi dengan membeli perkebunan kelapa sawit, atau bahkan dengan membeli perusahaan. Memangnya tidak boleh orang yang punya banyak unag membeli barang-barang mewah? Tentu saja boleh. Kendati demikian, lebih baik barang mewah ini dibeli dari hasil usaha atau hasil bunga depositonya.

Bila ada pertanyaan demikian “Pekerjaan manakah yang aman?”. Jawabannya adalah “Tidak ada pekerjaan yang aman.” Mengapa demikian? Itu karena zaman sudah berubah demikian cepatnya. Globalisasi membuat perkembangan teknologi di seluruh dunia makin cepat. Alam juga bisa berubah dengan drastis, bahkan tak menentu. Peraturan dan kondisi politik juga berubah cepat, membuat kondisi perekonomian berubah, dan semuanya juga berimbas pada pekerjaan kita.

Misalnya saja di suatu perusahaan swasta, karyawan yang sangat kompeten pun belum tentu aman. Bahkan mungkin juga terjadi bahwa orang yang paling kompeten itu adalah orang yang paling awal dipecat. Bila Anda berkarier dari bawah dan akhirnya tanpa KKN ternyata bisa menjadi direktur atau bahkan presiden direktur suatu perusahaan, pastilah Anda adalha orang yang berkompeten. Namun bila perusahaan tempat kerja Anda bekerja diambil alih oleh pemerintah, siapa yang akan diganti untuk pertama kali? Pastinya Presiden Direktur dan jajaran direkturnya. Lalu bagaimanakah nasib karyawan yang sangat berkompeten itu, yang beberapa saat lalu bisa berbangga diri karena bisa naik jabatan? Yaa, tentunya berakhir di tangan Presiden Direktur yang baru.

Pegawai negeri, amankah? Misalnya saja kasus seperti ini, ketika pergantian Presiden, Departemen pun turut diganti. Singkatnya pegawai negeri amat tergantung pada kondisi politik suatu Negara. Adapula yang mengira bahwa menjadi pedangang itu aman karena tidak ada yang memecat. Benarkah? Kalau tidak ada yang bisa memecat pedagang, lalu mengapa banyak pedagang yang bangkrut. Tentu saja ada orang yang bisa memecat kita sebagai pedagang, siapa lagi kalau bukan supplier dan customer kita.

Ada pula yang beranggapan bahwa orang yang sudah kaya tidak mungkin bangkrut. Namun faktanya tidak demikian. Dalam buku karangan Robert T. Kiyosaki yang berjudul Rich Dad Poor Dad mengungkapkan sejumlah nama pengusaha kaya yang tiba-tiba bangkrut, bahkan hidup mereka berakhir mengenaskan. Beberapa nama antara orang-orang tersebut antara lain Charles Schwab, Samuel Insull, Howard Hopson, Ivan Kreuger, Leon Frazier, Richard Withney, Arthur Cotton, Jesse Livermore, dan Albert Fall. Bertahun-tahun dunia kagum akan kekayaan mereka, namun kini 4 dari orang tersebut telah mati dalam kemiskinan dan tidak meninggalkan sepeser pun kepada ahli waris mereka. Ada pula yang pada tahun-tahun terakhir hidup mereka harus dilalui dengan berhutang sana-sini agar bisa bertahan hidup. Ada pula yang mati bunuh diri, masuk penjara, ada pula yang masuk rumah sakit jiwa. Mengenaskan bukan. Pada tahun 1929 memang terjadi Great Depression di Amerika, suatu resesi yang luara biasa, yang menyebabkan banyak orang yang menderita. Namun dalam setiap resesi pasti ada orang kaya yang bertahan bahkan ada orang kaya baru. Lalu apa yang membedakan orang kaya yang tetap bertahan di kala resesi, sedangkan yang lainnya bangkrut? Mengapa bahkan ada orang yang bisa menjadi kaya karena resesi?

Jawabannya sesungguhnya sederhana. Orang kaya yang bisa mempertahankan kekayaan mereka, dan orang-orang biasa yang bisa menjadi kaya, karena mereka siap. Mereka selalu bersiap diri dan berpikiran terbuka untuk selalu terus belajar dan bertindak mengikuti trend dan melakukan alokasi aset. Mereka juga punya sumber pendapatan yang beragam, atau multiple streams of income. Orang-orang seperti itu akan tumbuh semakin kaya dan kaya lagi melalui perubahan-perubahan tersebut. (dikutip dari buku Financial Revolution)

Dengan berbisnis kita dituntut untuk terus belajar dan tidak boleh buta terhadap perubahan dunia yang terjadi. Maka dari itu kita juga harus siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bila hal itu bisa kita jalani, tak perlu takut bila terjadi resesi sekalipun. Di saat preusahaan lain satu per satu tumbang, kita tetap berdiri kokoh di tengahnya. Itulah mengapa orang-orang kaya yang bijak lebih memilih menciptakan uang daripada bekerja untuk uang. Bekerja untuk diri sendiri daripada untuk orang lain. Menciptakan lapangan kerja, bukan mencari lapangan kerja. Orang kaya tidak mencari kesempatan, tidak pula menunggu kesempatan, tapi mereka menciptakan kesempatan mereka sendiri. Banyak orang yang hanya mencari aman. Mereka rela menjadi pekerja, menerima perintah dari atasan, melakukan hal yang monoton, asalkan mendapat penghasilan. Bahkan sekecil apapun penghasilan mereka terima, yang lebih parahnya lagi mereka harus berharap-harap cemas dengan perubahan yang terjadi, salah-salah mereka bisa kehilangan pekerjaan yang merupakan sumber penghasilan mereka satu-satunya. Itu karena mereka tidak berani mengambil resiko. Mereka mengikuti alur yang biasa dilalui sebagian besar orang.

Ketika diajak untuk berbisnis, mereka pasti merasa keberatan. Ada orang yang mengatakan “Saya tidak punya modal untuk berbisnis.” Lalu bagaimana orang yang hanya dengan modal 5 juta, dan itu pun uang pinjaman, bisa memiliki outlet franchise yang tersebar di mana-mana. Ada pula yang mengatakan, “Bagaimana bila bisnisnya gagal? Saya bisa rugi.” Tidak ada pekerjaan yang mudah dan langsung berhasil tanpa gagal. Namun di situ lah letak pembelajaran dan penguatan mental kita. Karena hal yang didapatkan dengan mudah, akan hilang dengan mudah pula. Mengapa harus takut rugi sedikit di awal bila akan untung besar di akhir. Selain itu juga ada yang bertutur, “Saya ini tidak berbakat untuk berbisnis.” Apakah bisnis itu sebuah bakat? Setahu saya tidak. Justru bisnis itu adalah sebuah tekad. Tekad untuk mencoba, tekad untuk maju, tekad untuk tidak mudah menyerah bila mengalami kegagalan, serta tekad untuk mencapai kebebasan finansial. Orang kaya juga melihat apa yang tidak dilihat oleh orang biasa. Mereka melihat dengan cakupan yang jauh dan dengan kacamata yang berbeda pula, sehingga mereka bisa melihat apa yang bisa mereka jadikan peluang untuk menciptakan uang. Hal sekecil apapun bisa dijadikan sumber penghasilan. Sesungguhnya berbisnis yang bijak bisa membuat kita memiliki kebebasan secara finansial. Mengapa demikian? Hal tersebut karena bila bisnis kita telah berjalan lancar, tidak perlu ada yang dicemaskan. Karena secara otomatis akan mendapatkan keuntungan yang tidak terhingga. Keuntungan tersebut kita peroleh tak semata-mata hanya dengan bekerja keras belaka, namun kita juga memerlukan pengalaman dan jam terbang yang tinggi, serta keberanian untuk melakukan perubahan.

Sesungguhnya bisnis itu adalah menciptakan suatu sistem yang nantinya akan berjalan sendiri dan menghasilkan tidak hanya sekedar active income, namun juga passive income. Sistem yang kita ciptakan untuk mendatangkan uang dengan sendirinya, tanpa harus bekerja membanting tulang sampai tua. Sesungguhnya berbisnis bisa membuat kita “pensiun dini”. Apa maksudnya pensiun dini? Apakah maksudnya kita dipecat dari pekerjaan dan tidak bisa memperoleh penghasilan lagi? Salah, bukan itu maksudnya. Maksud sesungguhnya dari pensiun dini adalah keadaan di mana seseorang telah memiliki kemapanan secara finansial. Sehingga seseorang tidak perlu bekerja lagi, namun tetap bisa menerima passive income yang cukup, bahkan berlebih untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Sehingga walaupun ia bekerja, itu semata-mata hanya sekedar kesenangan, bukan sebagai mata pencaharian pokok. Dengan demikian pencaharian utama akan tetap berjalan tanpa harus melakukan aktivitas fisik.

Bukankah menyenangkan bisa demikian? Pensiun dini membuat kita memiliki waktu luang lebih banyak. Bisa kita habiskan untuk berkumpul bersama keluarga, bepergian ke tempat-tempat yang kita inginkan, melakukan kegemaran kita, atau bahkan kita bisa melakukan pekerjaan lain yang bisa memberikan penghasilan ekstra. Waawh, sungguh menyenangkan bukan. Kita bisa bersantai hampir sepanjang waktu, namun uang tetap datang, bahkan bekerja saja hanya sebagai optional, boleh kita lakukan atau boleh juga tidak kita lakukan sama sekali.

Lalu bagaimana agar kita bisa memiliki semua itu? Yang jelas kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Kita tidak akan bertindak untuk mencapai tujuan bila kita tidak merasa harus. Di dunia ini semua pencapaian yang luar biasa pasti dicapai bila seseorang memiliki alasan yang kuat untuk menjadi luar biasa, baik sadar maupun tidak sadar. Sudah menjadi sifat dasar manusia yang selalu mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan. Semua perubahan yang terjadi dalam hidup kita juga dilandasi oleh keinginan untuk mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan. Lalu bagaimana caranya agar kita bisa membedakan mana tujuan kita dan mana upaya kita dalam mencari kenikmatan dan menghindari penderitaan? Yang pertama kali harus kita lakukan adalah mengetahui kerugian dan keuntungan dari tujuan yang hendak kita capai. Dalam memikirkannya, kita harus dengan penuh emosi. Kita harus membayangkan dengan total bagaimana bahagia dan bangganya kita bila mencapai tujuan yang kita inginkan. Selain itu penting juga untuk merasakan sengsara dan nikmatnya.  Kita akan bisa merasa “harus” bila kita mengalami hal yang menyakitkan. Sebab melalui hal menyakitkan tersebut, akan muncul tekad untuk tidak mengulangi hal menyakitkan tersebut, sehingga kita terdorong untuk segera bertindak maju untuk mencapai kenikmatan.

Selain tekad untuk maju dan memiliki tujuan yang jelas, kita juga harus mempunyai nilai tambah yang tidak dimiliki orang lain. Nilai tambah merupakan suatu keunikan atau ciri khas yang hanya dimiliki oleh kita, sehingga orang akan mencari kita karena hal tersebut hanya kita yang miliki. Bila ada orang lain yang memiliki hal itu juga artinya itu bukanlah nilai tambah. Oleh karena itu, buatlah diri Anda seunik mungkin, hingga keunikan itu tak ada duanya. Buatlah diri Anda dicari oleh banyak orang karena orang-orang tersebut membutuhkan keunikan Anda itu.

Perlu ditekankan sekali lagi, bahwa berbisnis bukanlah cara cepat untuk menjadi kaya. Karena berbisnis juga memerlukan suatu proses kesabaran yang panjang, di mana kita harus siap dengan segala resiko yang muncul bila kita mengalami kesalahan. Sesungguhnya berbisnis juga merupakan proses uji mental. Dalam berbisnis tak hanya keuntungan saja yang kita temui, tentunya kita akan menemui kegagalan. Di sini lah uji mental tersebut, mampukah kita terus melangkah maju walaupun telah menghadapi kegagalan? Memang bagi sebagian orang akan merasa trauma atau takut untuk memulai bisnis kembali, terlabih bila kerugian yang dialami dalam jumlah besar. Namun bagi orang yang memiliki sifat pebisnis sejati, mereka tak akan gentar untuk mencoba kembali. Mereka pastinya merasa kesal, namun semua itu dijadikan sebagai pelajaran agar tidak terjatuh di lubang yang sama. Para pebisnis sejati akan dengan mudah melupakan sakit hati mereka akan kegagalan, menyusun kembali rencana baru agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Mereka juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk modal memulai usaha baru atau bahkan mereka tak segan-segan untuk meminjam modal usaha. Sebab mereka yakin modal tersebut tak seberapa bila dibandingkan dengan keuntungan financial yang akan mereka dapat nantinya. Terlebih bila sudah mencapai kebebasan finansial, pasti modal berapapun akan terasa sangat ringan.

Uji mental lainnya adalah saat menghadapi orang banyak. Dalam bisnis tentunya kita tidak lepas dengan relasi bisnis. Permasalahannya adalah, latar belakang sifat manusia itu berbeda-beda.  Ada yang mudah diterka, ada pula yang sulit diterka, ada yang mudah diatasi, ada pula yang sulit diatasi. Semua iu menjadi tantangan baru bagi kita untuk belajar memahami sifat-sifat orang dan bisa menjinakannya. Dalam bisnis terdapat hubungan timbal balik antara kita, client, investor, dan lain sebagainya. Semua itu menuntut kita untuk dapat seperti “bunglon”. Maksudnya adalah kita dapat menyesuaikan diri dengan orang lain yang kita hadapi, bahkan mengikuti “cara mainnya” agar bisnis kta berjalan lancar. Penting juga untuk mengendalikan emosi kita dalam menghadapi orang-orang yang tak sejalan dan tak sepaham dengan kita. Bila kita tetap memaksakan kehendak, akan fatal akibatnya, sebab kita akan sulit mendapatkan kepercayaan dari rekan bisnis. Oleh sebab itu pintar-pintarnya kita untuk tidak mengekspos ketidaksetujuan kita di depan orang tersebut, dan alihkan cara penyampaian atas rasa tidak setuju kita dengan cara lain yang lebih mudah diterima oleh rekan bisnis kita.

Setelah tadi kita telah membahas keuntungan berbisnis untuk perkembangan diri pribadi, bisnis juga bermanfaat secara sosial. Pasti semua orang tahu bahwa jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia saat ini tidak sebanding dengan para pencari kerja. Terlebih paraa pencari kerja yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah. Bagi mereka akan sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan, apalagi pekerjaan yang berpenghasilan tinggi. Persaingan saat ini juga semakin ketat, membuat peluang untuk mendapatkan pekerjaan semakin tipis. Resesi juga membuat perubahan di bidang ekonomi. Tak jarang perusahaan yang gulung tikar akibat resesi. Lalu bagaimana nasib para pekerjanya? Tentunya saja mereka mengalami pemutusan hubungan kerja, dan jumlah karyawan yang mengalami PHK tidaklah sedikit. Akibatnya banyak pengangguran, kehidupan masyarakat pun makin tak menentu. Namun para pengangguran tetap saja membutuhkan makan dan kebutuhan lainnya. Bukan hal yang tidak mungkin bila orang yang kelaparan melakukan tindakan kriminal. Seperti yang sering kita lihat di berita, banyak terjadi pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan dengan motif harta. Semakin sulitnya kondisi perekonomian, alangkah baiknya bila ada penyelesaian atas segala permasalahan sosial yang terjadi. Mengapa tidak kita membuka lapangan kerja untuk membantu menyelesaikan segala permasalahan yang tengah terjadi di tengah masyarakat saat ini?

Nah itulah manfaat bisnis bila dilhat dari segi hubungan sosial dengan masyarakat. Dalam menciptakan sistem perusahaan tentunya kita membutuhkan banyak tenaga kerja professional dan non professional untuk membantu kita. Dan itu artinya kita telah menyumbangkan lapangan pekerjaan bagi para pencari kerja. Apabila kebutuhan akan lapangan kerja telah terpenuhi, angka kriminalitas, kelaparan, dan kemiskinan akan dapat ditekan, setidak-tidaknya tak sebanyak sebelumnya.

Bisnis dapat memperbaiki kondisi perekonomian Negara. Bila kita mempunyai suatu bisnis, artinya kita wajib membayar pajak. Dan pajak tersebut bisa dialokasikan untuk pembangunan Negara, distribusi bantuan kepada rakyat kecil, dan lain sebagainya. Selain itu dengan adanya perusahaan swasta nasional membuat kita mengurangi karyawan yang bekerja di perusahaan swasta asing. Sehingga pajak pun akan masuk ke dalam keuangan Negara kita sendiri, bukan kepada perusahaan asing.

Sebagai entrepreneur sejati, selain menguntungkan diri sendiri, kita juga bisa membawa keuntungan bagi orang lain. Sebab kita sebagai entrepreneur juga harus memperhatikan kesejahteraan para pekerja. Seperti pendapatan, keselamatan kerja, dan lain sebagainya. Selain itu pebisnis juga harus bertanggungjawab terhadap alam dan lingkungan. Artinya usaha apapun yang kita lakukan tidak boleh mengganggu keseimbangan alam dan lingkungan, terlebih bila mengakibatkan bencana yang memakan banyak korban. Di samping itu kita juga harus menjaga kepercayaan dari rekan bisnis, investor, kreditur, maupun pemerintah. Sebagai entrepreneur, kita harus menjadi entrepreneur yang beretika dan tidak merugikan pihak-pihak lainnya.

Selamat berjuang! Raihalah impian di depan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: