Krisis Global vs Seniman Jalanan

Krisis global.. Humm, dari namanya saja kita sudah tahu bahwa hampir semua negara merasakan dampak dari krisis yang bersifat global ini. Akibat yang paling utama dan sering kita dengar adalah makin banyaknya pengangguran dan tuna wisma. But life must go on. Lalu bagaimana caranya mempertahankan hidup di tengah-tengah krisis global tanpa pekerjaan?

Saya sempat membaca di sebuah blog tentang keunikan masyarakat di Columbia dalam mencari penghasilan tanpa pekerjaan tetap. Hampir di setiap sudut jalan di Bogota, Columbia mengalami kemacetan, terlebih di persimpangan yang memiliki lampu merah. Namun bagi sebagian orang, hal tersebut menjadi lahan uang. Di setiap persimpangan, banyak seniman jalanan yang beraksi saat lampu merah. Ada yang menjadi badut, melakukan atraksi sirkus, sulap, dan lain sebagainya.

Dari mana datangnya seniman jalanan tersebut? Simpel saja, banyaknya pengangguran membuat mereka harus memutar otak demi mendapat penghasilan. Banyak mantan pegawai perusahaan yang beralih profesi karena keadaan. Sebagian besar orang memandang menjadi seniman jalanan adalah pekerjaan yang menjanjikan, sebab selain lampu merah di Bogota yang panjang, penghasilan mereka juga tak kalah besar seperti saat mereka bekerja di kantor. Terlebih respon positif dari masyarakat yang merasa terhibur di tengah-tengah kemacetan, membuat mereka lebih semangat. Tak jarang dari mereka yang akhirnya diminta untuk menjadi badut penghibur di acara ulang tahun hanya karena ada orang yang terpukau melihat aksi mereka di jalanan.

Dan uniknya lagi fenomena tersebut tak hanya terjadi di Bogota, Columbia. Tapi juga terjadi di Indonesia. Kebetulan saya adalah seorang mahasisiwi yang tiap hari akrab dengan kehidupan KRL Commuter. Kereta yang biasanya sangat padat (umumnya KRL ekonomi) tak lepas dari pedagang asongan, pengamen, maupun pengemis. Tapi tepat siang tadi, KRL ekonomi yang saya tumpangi jauh dari kata padat. Dan uniknya lagi saya melihat hal yang tidak umum saya lihat di sebuah KRL ekonomi. Ada seorang badut yang berjalan dari satu gerbong ke gerbong lain untuk menampilakan aksinya. Dia bisa memutar-mutar piring hanya dengan sebatang sumpit, lalu bermain dengan 4 bola kecil. Aksi yang ditampilkan tak jauh beda dengan badut kebanyakan, namun yang membuat unik adalah lokasi dia beraksi. Sebab laju kereta membua tdia harus lebih menjaga keseimbangan tubuhnya.

Namun sayangnya antusiasme dari penumpang nampaknya kurang, jadi tetap saya seniman Columbia yang unggul. Dari segi penghasilan juga nampaknya tak sebanding dari aksi yang dia lakukan dari satu gerbong ke gerbong lain. Namun suatu usaha yang cukup patut diacungi jempol. Keep Spirit!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: