Perkembangan Pasar Merica di Indonesia

Tugas Teori Ekonomi 1 – Bapak Dr. Prihantoro

Lada atau merica (Piper nigrum L.) adalah tumbuhan penghasil rempah-rempah yang berasal dari bijinya. Lada sangat penting dalam komponen masakan dunia. Pada masa lampau harganya sangat tinggi sehingga memicu penjelajah Eropa berkelana untuk memonopoli lada dan mengawali sejarah kolonisasi Afrika, Asia, dan Amerika (Wikipedia, 2009).

Sejak jaman dahulu kala, Indonesia terkenal sebagai negara penghasil rempah-rempah, sebagian besar rempah-rempah yang diperdagangkan di dunia adalah merica (Peper nigrum Linn). Produksi merica pada satu dekade terakhir ini mengalami fluktuasi yang cukup drastis dan cenderung semakin menurun, bahkan semakin sulit menembus dan bersaing dalam perdagangan internasional. Apalagi rendahnya mutu merica yang dihasilkan oleh petani menyebabkan rempah-rempah asal Indonesia sering mengalami penahanan oleh Food and Drugs Administrantion (FDA) di Amerika Serikat. Penahanan tersebut terjadi karena adanya pencemaran oleh mikroorganisme, bahan asing, kadar air, dan kadar minyak merica yang tidak memenuhi syarat. Permasalahan di atas disebabkan karena mayoritas masyarakat petani merica di Indonesia masih menggunakan teknologi tradisional, baik dalam budidayanya maupun dalam penanganan pasca panennya. Disamping faktor teknologi tersebut, perangkat sistem dan kebijakan yang ada juga tidak mendukung bagi terciptanya suatu mekanisme pasar yang kondusif (Mulyono D, 2002).

Di pasar internasional, merica Indonesia mempunyai kekuatan dan daya jual tersendiri karena cita rasanya yang khas. Peranan Indonesia sebagai penghasil dan pengekspor lada hitam telah digeser oleh Vietnam, sementara lada putih masih bisa dipertahankan namun tetap harus waspada. Agar dapat bersaing di pasar dunia maka harus dilakukan efisiensi budi daya lada Indonesia dan pengembangan diversifikasi produk merica (Manohara Dyah, dkk, 2009).

Diversifikasi produk diperlukan bila produk utama harganya jatuh. Di samping mengembangkan merica pada lahan yang sesuai, serta menerapkan teknologi rekomendasi dan efisiensi biaya produksi juga perlu ditingkatkan peran kelembagaan mulai dari kelembagaan di tingkat petani (KUD, APLI, kelompok tani) sampai kelembagaan pemasaran seperti AELI dan IPC (Yuhono, JT. 2009).

PROYEKSI PENAWARAN MERICA 2009-2011

Sebagian besar produksi lada Indonesia diperuntukkan ekspor, sehingga proyeksi penawaran merica berdasarkan perilaku harga ekspor dan luas arealnya. Berdasarkan fungsi respons dengan menggunakan model regresi berganda diperoleh informasi bahwa produksi merica Indonesia dipengaruhi oleh luas areal lada (t) dan harga ekspor 3 tahun sebelumnya (t-3). Koefisien determinasi dari fungsi respons diperoleh sebesar 94,10% yang menunjukkan bahwa peubah-peubah yang digunakan dalam model dapat menjelaskan keragaman model

produksi lada sebesar 94,10%.

Dengan fungsi penawaran tersebut, produksi lada di Indonesia diproyeksikan akan meningkat selama periode tahun 2009-2011. Tahun 2009 diperkirakan produksi lada di Indonesia mencapai 79,41 ribu ton dan akan terus meningkat hingga mencapai 85,97 ribu ton pada tahun 2011 dengan rata-rata peningkatan sebesar 2,59% per tahun.

PROYEKSI PERMINTAAN  MERICA 2009-2011

Proyeksi permintaan lada didekati dari permintaan untuk memenuhi konsumsi perkapita oleh rumah tangga serta permintaan untuk ekspor. Data konsumsi per kapita diperoleh dari hasil SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional, BPS) yang dilakukan setiap 3 tahun sekali dikalikan dengan jumlah penduduk. Tahun-tahun dimana tidak ada survei dihitung dengan interpolasi. Sementara, data ekspor diolah dari data yang dipublikasikan oleh BPS.

Pemodelan proyeksi permintaan lada untuk konsumsi menggunakan pemulusan eksponensial berganda (double exponential smoothing) dengan MAPE sebesar 12,52. Sedangkan proyeksi permintaan untuk ekspor menggunakan pemulusan tunggal dengan nilai MAPE sebesar 86. Dari hasil pemodelan tersebut pada periode tahun 2009 – 2011 total permintaan lada Indonesia diproyeksikan akan sedikit menurun dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 1,88% per tahun. Secara absolut, total permintaan lada pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 75,46 ribu ton dan akan meningkat lagi hingga mencapai 76,90 ribu ton pada tahun 2010 dan 78,32 ribu ton pada tahun 2011.

PROYEKSI SURPLUS/DEFISIT MERICA 2009-2011

Berdasarkan atas proyeksi penawaran dan total permintaan lada selama periode tahun 2009 – 2011, maka dapat dihitung defisit/surplus ketersediaan lada di Indonesia, ternyata masih terjadi surplus lada sebesar 3,95 ribu ton pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 7,77 ribu ton pada tahun 2010, dan sedikit menurun menjadi 7,64 ribu ton pada tahun 2011.

Sumber :

http://www.deptan.go.id/pusdatin/admin/PUB/Outlook/outlook_komoditas_perkebunan.pdf
Bersama Fransisca Carindri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: