Perubahan Tingkat Suku Bunga Deposito Jangka Waktu 3 Bulan

Grafik Suku Bunga Deposito

Grafik di atas menunjukan perkembangan tingkat suku bunga pinjaman jangka panjang (deposito) dari berbagai kelompok bank di Indonesia yang meliputi Bank Milik Pemerintah (BUMN), Bank Pembangunan Daerah (BPD), Bank Umum Swasta Nasional (BUSN), dan Bank Asing & Campuran (JN / Joint Venture). Data tersebut diperoleh dari website resmi Bank Indonesia. Hal yang menjadi sorotan pada grafik di atas adalah bahwa tingkat suku bunga pinjaman jangka panjang (deposito) tertinggi terjadi di tahun 2008. Bisa diperkirakan penyebab dari kenaikkan tingkat suku bunga ini dikarenakan resesi global akibat kasus kredit macet di bidang properti yang melanda Amerika Serikat, yang berawal di tahun 2007 dan terus memuncak di tahun 2008. Krisis ini memberi dampak yang cukup serius bagi perekonomian dunia, tak terkecuali Indonesia. Dampak buruk yang amat terasa sekali adalah turunnya tingkat ekspor Indonesia. Penurunan ini sangat terasa sekali di tahun 2009 karena krisis global 2008. Akibat menurunnya tingkat ekspor, maka jumlah pembeli barang ekspor pun menurun, yang berakibat menurun pula tingkat pendapatan Indonesia. Penurunan daya beli masyarakat ini sudah jelas akan berimbas pada naiknya tingkat inflasi.

Tingginya tingkat inflasi mendorong Bank Indonesia menaikkan BI Rate. BI Rate tidak dinaikkan secara agresif mengikuti credo atau cardinal rule dari mekanisme Inflation Targeting Framework (ITF). Bila dalam ITF tekanan suku bunga meningkat, maka BI mau tidak mau harus menaikkan suku bunga. Hal tersebut dikarenakan perubahan tingkat harga dalam perekonomian dicerminkan dengan variabel inflasi. Inflasi adalah kenaikan tingkat harga yang terjadi secara terus menerus, yang disebabkan oleh pertumbuhan penawaran uang yang tinggi, maka dari itu diperlukan adanya kebijakan moneter. Tingkat inflasi yang tinggi tidak bisa dikendalikan hanya dengan kebijakan fiskal. Perpaduan kebijakan moneter dan fiskal diperlukan untuk mengendalikan laju inflasi. Teori kuantitas menyatakan bahwa bank sentral yang mengawasi suply uang memiliki kendala tertinggi atas tingkat inflasi. Jika bank sentral mempertahankan suply uang tetap dalam kondisi yang stabil, maka tingkat harga pun akan stabil. Jika bank sentral meningkatkan suply uang dengan cepat, maka tingkat harga akan meningkat dengan cepat.

Inflasi yang tinggi tentu tidak baik bagi perekonomian suatu negara. Jika tingkat inflasi sudah dinilai terlalu tinggi biasanya pemerintah akan melakukan intervensi. Pada umumnya strategi pemerintah dalam menekan inflasi adalah dengan mengurangi jumlah uang beredar. Jumlah uang yang beredar dapat dikurangi dengan cara menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia, sehingga dengan sendirinya bankā€“bank swasta, asing maupun pemerintah akan menaikkan suku bunga yang telah ditetapkan, dalam hal ini suku bunga deposito. Jika suku bunga bank dirasa lebih menguntungkan oleh investor untuk melakukan investasi, maka mereka akan menanamkan dananya di bank dalam bentuk deposito berjangka, karena investasi ini tidak memiliki risiko. Oleh karena tingkat inflasi dianggap membahayakan tingkat perekonomian secara makro, pemerintah selalu berusaha menekan tingkat inflasi tersebut dengan cara mengendalikan suku bunga. Jadi inflasi yang tinggi akan mengakibatkan naiknya suku bunga bank. Hal ini dapat diartikan bahwa tingkat inflasi memiliki pengaruh positif terhadap suku bunga bank.

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: