Mekanisme Dunia Perbankan

KLIRING

Kliring adalah suatu tata cara perhitungan utang piutang dalam bentuk surat-surat dagang dan surat-surat berharga dari suatu bank terhadap bank lainnya, dengan maksud agar penyelesaiannya dapat terselenggara dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. Kliring apabila giran (nasabah giro) menarik cek, kemudian diserahkan kepada bank untuk dibayar secara tunai.  Dapat dikatakan bahwa kliring hanya dapat dilaksanakan pada Bank Umum karena salah satu kegiatan Bank Umum adalah melayani lalu lintas keuangan giral. Dalam transaksi kliring dikenal adanya warkat kiring yaitu alat pembayaran yang dipakai dalam lalu lintas pembayaran giral seperti cek, bilyet giro, surat bukti penerimaan transfer dari luar kota, wesel bank untuk transfer atau wesel unjuk dan jenis-jenis warkat lain yang telah disetujui penyelenggara kliring

Berikut ini adalah contoh pelayanan lalu lintas moneter berdasarkan ilustrasi antara Siti Bank dan Karman Bank dan nasabah Bank KARMAN dan SITI.

 

Dalam contoh kasus ini, nasabah Ali dalam Bank Siti Bank membeli barang secara kredit dari nasabah Atun sebesar Rp 50.000.000 dan membayar dengan cek. Untuk mencairkan cek tersebut Atun menyerahkan kepada pihak Bank Karman. Namun pihak Bank Karman harus mencairkan cek tersebut ke Siti Bank, karena dana dari cek yang dikeluarkan oleh Ali tersimpang di Siti Bank. Bank Karman melalui perantara Bank Indonesia mengirim surat Nota Debit Keluar untuk mencairkan cek tersebut. Bank Indonesia menyerahan surat tersebut ke Siti Bank sebagai Nota Debit Masuk. Lalu pihak Siti Bank mengeluarkan Nota Kredit Keluar kepada pihak Karman Bank melalui perantara Bank Indonesia. Bagi pihak Karman Bank surat tersebut merupakan Nota Kredit Masuk. Setelah dipastikan dana yang dimiliki Ali pada Siti Bank mencukupi, maka saldo sebesar Rp 50.000.000 dipindahkan ke rekening Atun pada Bank Karman.

 

Jika hasilnya  (+) berarti  bank tersebut menang kliring. Bila hasilnya (-) berarti bank tersebut kalah kliring.

Pihak yang kalah kliring harus meminjam dana kepada peserta kliring lainnya yang menang kliring untuk mencapai LRR. Kondisi demikian disebut juga dengan Call Money. Pinjaman call money juga memiliki beban bunga, bisa berupa bunga tahunan atau bunga per malam. Apabila peserta kliring tidak sanggup membayar dan jumlah hutang kliringnya besar, maka pihak Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melikuidasi bank tersebut. Kekalahan kliring tidak berpengaruh pada likuiditas bank, tetapi akan berpengaruh jika saldo R/K bank tersebut di BI tidak memenuhi KRR.

ALOKASI SOURCE OF FUND DAN USE OF FUND

Pada skema di atas dapat dilihat bahwa Cash Reserves menjadi penentu likuiditas, yang terdiri dari Kas dan R/K pada BI (GWM). Deposit di liabilities dialokasikan ke cash reserves dan Loan. Securities di liabilities dialokasikan ke cash reserves juga apabila terdapat Call Money. Capital di Liabilities dialokasikan ke Loan di Assets. Securities di Assets itu ditujukan untuk dibeli. Sedangkan secutities di Liabilities ditujukan untuk dijual. Loan memperoleh alokasi dari deposit ditambah capital, karena beberapa dari deposit sudah dialokasikan ke cash reserves, sehingga butuh tambahan dari capital.

PERHITUNGAN BUNGA BANK

Pada setiap akhir bulan, bank akan menghitung saldo akhir bulan per rekening. Saldo tersebut berasal dari saldo akhir ditambah dengan bunga. Saldo akhir bulan akan menjadi saldo awal pada bulan berikutnya.

Saldo akhir bulan = saldo akhir hari + bunga

Cara menhitung bunga bank

Terdapat dua jenis pembagi yang berbeda yaitu 365 dan 360. Hal terbeut dibedakan berdasarkan letak akun bunga pada kolom neraca. Bunga yang tercatat pada sisi liabilities dibagi dengan 365 hari. Sedangkan bunga yang tercatat pada sisi aset dibagi 360. Hal ini dibedakan dengan tujuan agar bank tetap memperoleh presentase bunga yang tinggi.

METODE PERHITUNGAN BUNGA BANK

1. Metode Saldo Terendah

Pada metode ini, bunga dalam satu bulan dihitung berdasarkan saldo terendah dalam bulan tersebut.

Bunga dihitung dengan rumus sebagai berikut :

ST        =  Saldo Terendah

i           =  suku bunga tabungan pertahun

t           =  jumlah hari dalam 1 bulan

365      =  jumlah hari dalam 1 tahun

 

Misalkan suku bunga yang berlaku adalah 5% pa (per annum). Karena saldo terendah pada bulan Juni adalah Rp 1.000.000, maka perhitungan bunga sebagai berikut :

2. Metode Saldo Rata-Rata

Pada metode ini, bunga dalam satu bulan dihitung berdasarkan saldo rata-rata dalam bulan berjalan. Saldo rata-rata dihitung berdasarkan jumlah saldo akhir tabungan setiap hari dalam bulan berjalan, dibagi dengan jumlah hari dalam bulan tersebut.

dan seterusnya.

Berdasarkan cara perhitungan diatas, bunga tabungan Anda selama bulan Juni adalah Rp 33.616,44.

 

3. Metode Saldo Harian

Pada metode ini bunga dihitung dari saldo harian. Bunga tabungan dalam bulan berjalan dihitung dengan menjumlahkan hasil perhitungan bunga setiap harinya.

 

Misalkan bunga tabungan yang berlaku adalah sebagai berikut :

Saldo dibawah Rp 5 juta, bunga = 3% pa

Saldo Rp 5 juta ke atas, bunga = 5% pa

 

Sumber

http://www.bi.go.id

wikipedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: